Negeri kita kembali tertimpa bencana. 30 September 2009 Padang Pariaman, Sumatera Barat di guncang Gempa berskala M7.6. Saat itu aku sedang asyik asyik nya menyelesaikan Alumni8, sehabis minum es Campur yang baru di beli.
Kok kepala ku pusing ya, goyang goyang lagi, pusing sekali. Sama waktu Gempa Awal Ramadhan di Bengkulu tahun lalu. Kulihat langit - langit kamar rumah peninggalan Jaman Belanda yang ku tempati. Lampu kamarku bergoyang, kesana kesini. Gempa pikirku, tapi dimana? Sialnya koneksi Internetku lagi lambat, karena aku saat itu jadi Klub 64Kb.
Buka, tv, cek di Metro TV, lom ada kabar, cek di CNN, BBC, atau channel berita luar negeri lom juga ada kabar. Aku menduga duga, kalo Gempa sampai terasa getarannya yang cukup keras, berarti Gempa kali ini dekat dengan Jambi. Bengkulu, Padang atau Kerinci tebak ku? Selang 5 menit akhirnya kabar Gempa itu baru di ketahui, Padang di landa Gempa yang dahsyat, M7.6 .
Keesokan harinya, Kerinci ( Sungai Penuh , not Liverpool ) di landa Gempa dengan skala M7.0 .
Banyak korban, baik yang meninggal maupun yang luka - luka. Komunikasi terputus, Lampu mati, pasokan BBM terputus, membuat kota Padang terisolasi.
Banyak sms yang mauk ke Hp 5700 ku, menanyakan kabar, gimana keadaan kamu dan keluarga ( ssst padahal hanya beberapa loh ). Alhamdulillah aku dan keluarga ku selamat, hanya merasa pusing saja kena getaran gempa.
“Loh, bang? judulnya gak sinergi dengan isinya”
“La, kan baru kata pengantar, Lup ( kulup, panggilan khas jambi untuk anak anak seperti di Jawa Thole)”
“Capek dech bang, baca tulisan panjang lebar dan gak mutu lagi”
Akhirnya kulup dengan sukses di tendang oleh si pemilik blog ini, karena ribut
sekali, mana ponakan ku lagi tidur.
Back to Topic.
Memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Menari - nari di atas penderitaan orang. Mungkin kata yang tepat. Apa sebap? Pengalamanku saat Gempa Jogja Mei 2006 ( kayaknya saat teman baikku wisuda ni, sapa ya?
). Siangnya rasa lapar itu gak terasa karena shock kali atau gak kepikiran buat makan saat gempa. Malamnya, sulit sekali mencari warung yang buka, kalo ada itupun antri dan harganya?Imagize dude ( gaya dikit pakai bahasa jawa…) Nasi Telur yang biasanya Rp.3.000 naik menjadi sekitar Rp.6.000 , dan hanya itu yang ada.
Na itu baru bicara seputar Kampung Tengah ( Perut maksudnya ), apalagi bicara soal lainnya, seperti tiket penerbangan. Karena banyak orang yang ingin melihat atau mengetahui keberadaan Keluarganya. Belum lagi pasokan bantuan, seperti obat obatan, pangan dan sandang buat pengungsi.
Na, Gempa Padang ( Sumatera ) kali ini, juga senasib, setiap ada bencana atau kejadian, inflasi akan terjadi karena pasokan atau barang tak mencukupi
permintaan tinggi ( High Demand , betul gak katanya? :P)Tadi nonton berita terbaru tentang Gempa, yang memberitakan, harga Tiket Pesawat menembus titik tertinggi dari rate standar. 3 Juta, harga yang ku dengar dan
tonton yang keluar dari calon penumpang yang akan menuju ke Padang untuk melihat keluarganya. Edan…………. pikir ku, mengalahkan tiket mudik saja yang sudah di tambah Tusla.
Ini yang namanya ‘ Mengail di Air yang Keruh’ atau ‘Menari di Atas Penderitaan Orang Lain’. AKu lantas tak percaya begitu saja, la wong pagi tadi aku nonton wawancara di Metro TV, korban Gempa yang asal Jakarta yang selamat, lalu pulang ke Jakarta katanya 900 ribu tiket Padang - Jakarta. Walapun ongkos taksi dari kisaran 100 ribu menjadi 500 ribu. Aku pun mengecek kebenaranya, setelah adikku yang lagi liburan berhasil ku
tendang dari meja komputer ku, aku mulai Online ( tentunya gak nyanyi lagu
Saykoji ). Aku masuki satu persatu situs maskapi penerbangan Indonesia,ah
cantiknya pramugarinya… bukan itu, aku cek satu persatu harga nya…gak ada kisaran 3 juta, harga nya kisaran antara 900 ribu- 1,2 juta, ( persis yang di bilang oleh om yang di wawancara Metro TV).

Tiket Garuda

Tiket Mandala Air

Tiket Lian Air
Dari gambaran di atas, tiket masih normal kenaikannya, tidakbegitu mencekit sampai ke Jantung. Lalu siapa yang membuat harga tiket melambung tinggi? Mungkinkah agen perjalanan. Saya tidak mau beprasangka buruk, dan menuduh mereka yang ujung ujungnya menyeret saya ke dalam Penjara.
Seharusnya saat musibah dengan permintaan yang tinggi, harga tetap terjaga, karena sangat miris melihat, jika saudara kita dalam kesusahan kita malah membuat susah mereka.
Dan..semoga saat terjadi bencana, komunikasi tidak terganggu, karena keluarga korban sangat membutuhkan Informasi mengenai keberadaan keluarga mereka. Ayo Operator Telekomunikasi, bisa gak kalian berbenah, jangan berbenah perang tarif dan Iklan saja.
O ya bagi rekan blogger yang ingin menyisihkan sedikit rezekinya, bisa menyumbangkan rezeki anda. Kalo saya lewat Media Indonesia ( Metro TV ) kan tau tu rekening nya..
Turut Berduka Cita atas Korban Gempa Bumi Sumatera ( Padang dan Kerinci ).
note: Kayaknya Kerinci terabaikan oleh media nasional nich…








yaaa serem bgt gempa di padang.. rasanya jadi sering bgt ya gempa == hikhik sedih bgt pas liat di tv.. untuk anda tidak apa2 ya…
Btw in temanya jauh bgt ma judul hahahahaah bener2 baru sadar pas baca pparagraph pertama tadi
XD
Memang selalu banyak yang mengail di air keruh ….
semua harga naik om…
malam bang…………
dimana yah.disini rahasia Tuhan tak terlacakkan oleh kasat ilmu kita bang……….dan kita mengharap tak ada banyak gempa di negeri ini lagi
salam hangat selalu
met lebaran yah bag
Hadir!!! Iye - iye… 27 Mei 2006…. itu kan gelaran Wisuda terbaik sepanjang Sejarah UII
Iya tuh bos… bahkan Wapress Jusuf Kalla sampai marah - marah dan meminta Kementrian terkait untuk segera menindak maskapai yang nakal, bahkan bila perlu.. cabut aja izin nya…
Gitu kata Pak JK…